#24

hujan, bagiku, selalu memuai rindu.
sehabisnya, tak lantas susut, semakin memuai.
hujan pagi ini.
rindu memuai lagi (dan lagi).
padamu.

Sukabumi, 23.01.2014

Selamat ulang tahun, Sayang..

Cukup kusampaikan dalam sujud padaNya do’a-do’a untukmu.

^_^

Kami merindukanmu selalu..

Memandang Lelap

Kupandangi wajah lelapnya.
Dahi, alis, mata, hidung, pipi, bibir.
Kusentuh, lembut.
Dengkur halus senada dengan tarikan napas.

Kupandangi wajah lelapnya (lagi).
Gurat lelah tergambar di sana.
Semoga Alloh ganti setiap ikhtiar dengan barokahNya.
Kukecup keningnya.
Dia terkesiap, sedetik, lalu lelap kembali.

(Masih) kupandangi wajah lelapnya.
Tanganku menggenggam tangannya.
Tak terencana, airmata mengalir begitu saja.

“Nikmat manakah yang kau dustakan?”
Telah menjadi istri dari seorang lelaki sholih.
Telah menjadi pendamping hidup dari seorang lelaki luarbiasa.
Telah menjadi menantu dari seorang ibu yang sungguh kuat dan berhati mulia.

Kupeluk dirinya yang benar-benar terlelap tidur.
Kubiarkan saja mendanau mataku.
Menikmati irama degup jantungnya.
Merapal do’a-do’a..

Ya Alloh..
Aku mohon, kabulkanlah..

Kamis, 25/04/2013
02:09 WIB
Dini hari, terjaga memandang lelapmu. Mensyukuri takdir terindah, menjadi istrimu, Sayangku..
Menanti sepertiga malamNya, bersiap menyambutmu dari lelap dengan senyuman dan pelukan hangat..🙂

Posted from WordPress for BlackBerry.

From This Moment

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

 

***

10 Maret 2013.

Bola api di langit bahkan belum menampakkan diri.

Pagi dengan gerimis ritmis nan romantis yang mengiringiku dan wanita terhebat menuju kotak beton yang akan menjadi saksi bisu peristiwa ini.

Melantunkan puja-puji pada Dia Yang Maha Sempurna.

Penuh harap semoga hari ini berlimpah berkah.

 

Detik berdetak, beriring istighfar yang membasahi lisan.

 

Tak kuingat pasti, menjejak di angka berapa jarum pada penunjuk waktu.

Saat kau lafadzkan dengan yakin, satu kali saja:

“Saya terima nikahnya Prima Amalia Putri, S.E, putri kandung Bapak dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

Dan saksi-saksi menyatakan “Sah”.

Terjawablah sudah semua tanya.

Lengkaplah sudah tulang rusuk.

Genaplah separuh dien yang agung.

Dan telah kau ambil ‘perjanjian yang berat’ itu, mitsaqan ghalizha.

AllahuAkbar…

 

Semakin tumpahlah bendungan airmata.

Menyesapi do’a yang dilangitkan…

Barakallahulaka wabaraka’alayka wajama’a bainakuma fii khoiir…

Allah… Allah… Allah…

 

Hari ini,

Perjuangan baru telah dimulai.

Perjuangan menerima dan mengenali seutuhnya, melayani sepenuhnya, seseorang yang kini kusebut sebagai ‘suami’, dirimu.

Perjuangan membangun cinta, dengan landasan cinta kita padaNya, Allah.

Perjuangan menghidupkan sunnah-sunnah kekasihNya dalam rumah tangga kita.

Perjuangan menjemput sakinah, mawaddah, warahmah, pun ridho dan barokahNya.

Perjuangan menghadirkan Surga di rumah.

Perjuangan mendidik jundi-jundi Allah yang kita harap kelak akan berjihad menjadi pejuang-pejuang dakwah.

Perjuangan membangun madrasah peradaban.

Perjuangan menjadi keluarga teladan, tak hanya di keluarga besar kita, tapi mimpi kita dapat menjadi teladan bagi ummat.

Perjuangan menggapai SurgaNya.. Surga yang selalu dirindu.. Dengan taat dan baktiku padamu, mengharap padaNya berbuah Surga. Bertemu dan membangun cinta lagi di Surga. Menjadi ratu bidadari, untukmu.

 

Sejak hari ini,

Izinkan aku untuk terus belajar mengenalmu,

belajar mencintaimu,

dengan benar,

Lillah.. Fillah..

 

Sejak hari ini,

Mari kita selaraskan langkah,

berjuang bersama,

meraih ridho, berkah, dan Surga Allah…

 

 

*Untukmu, Suamiku…

Aku mencintaimu, karena Allah… ^_^

 

I love you Lillah Fillah, my dear ^_^

 

 

Selasa, 23 April 2013

10:26 WIB

Rumah Mapa, Sukabumi.

Dengan rindu yang menggebu padamu, Sayang.. Tunggu aku pulang dengan senyuman dan pelukan..

 

 

 

 

 

H-2

Bismillaah…

Tiada daya dan upaya selain karena kuasa dan pertolonganMu, duhai Yang Maha Memiliki Segalanya.

Engkau sungguh lebih mengetahui apa yang ada dalam setiap hati-hati kami.

Ya Rabb, kami memohon ridho-Mu…

 

Jazakumullah khairan katsir…

Allah sebaik-baik pemberi balasan. Hatur nuhun untuk ibu-ibu yang sudah hadir, berkenan meluangkan waktunya, dan mendo’akan kami.

Semoga Allah ijabah semua do’a-do’a yang kita panjatkan.

Allohumma aamiin..

 

 

 

Jum’at, 08/03/2013

23:55 WIB

H-2, menikmati degup jantung yang kian cepat dan perut yang seperti ada kupu-kupu terbang di dalamnya. Seiring dengan dzikir yang semoga selalu membasahi lisan, perbuatan, dan hati kami.

18 – 2 – 13 = 24

Adakalanya kesendirian menjadi hadiah ulang tahun yang terbaik. Keheningan menghadirkan pemikiran yang bergerak ke dalam, menembus rahasia terciptanya waktu.

Keheningan mengapungkan kenangan, mengembalikan cinta yang hilang, menerbangkan amarah, mengulang manis keberhasilan dan indah kegagalan. Hening menjadi cermin yang membuat kita berkaca – suka atau tidak pada hasilnya.

Lilin merah berdiri megah di atas glazur, kilau apinya menerangi usia yang baru berganti. Namun, seusai disembur napas, lilin tersungkur mati di dasar tempat sampah. Hangat nyalanya sebatas sumbu dan usailah sudah.

Sederet doa tanpa api menghangatkanmu di setiap kue hari, kalori bagi kekuatan hati yang tak habis dicerna usus. Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap.

Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari.

-Dewi “Dee” Lestari, Lilin Merah [1998] dalam buku Filosofi Kopi-

***

Suasana hari ini, mirip dengan tulisan Dee yang saya kutip. Hening. Ditinggal di rumah sendirian, orangtua bekerja, adik-adik di perantauan untuk menimba ilmu.

Sendiri. Ternyata tidak selalu identik dengan hal-hal yang menyedihkan. Ada kalanya, justru kesendirian itulah yang dicari. Ada damai di sana. Ada renung yang dengan penuh harap berujung pada bijak, mendulang hikmah.

Ulang tahun. Mengulang tahun. Padahal tahun tidak akan pernah terulang lagi kan?? Bulan, minggu, hari?? Apa pun kata pengganti untuk satuan waktu. Bahkan sepersekian detik yang lalu takkan pernah bisa kembali lagi.

Mungkin di sana salah satu letak hikmah. Waktu. Yang tidak akan pernah sedikiiiiit pun dapat kembali.

Maka, hening di hari ini, mengantar pada titik balik. Untuk apa dilahirkan? Untuk apa hidup? Apa yang dilakukan selama hidup? Bermaknakah? Bermanfaatkah hidupmu? Sudahkah siapkan bekal untuk berjumpa dengan Yang Maha Hidup, Yang Maha Menguasai Waktu. Alloh..

Juga syukur. Yang sudah seharusnya menjadi nafas dalam kehidupan.

Hening yang berbuah do’a-do’a. Melangitkan harap semoga do’a-do’a itu Alloh ijabah. Aamiin. Allohumma aamiin..

Dan hari ini, selamat menjadi 24..

Senin, 18/02/2013
23:04 WIB
Diiringi senandung nasyid dari Ebith Beat A..
..24 tahun, Robbana.. Hamba di dunia, Robbana.. Hamba banyak dosa, Robbana.. Hamba mohon ampun..

Posted from WordPress for BlackBerry.

Milanisti (?)

Saya bukan penikmat, pencinta, apalagi maniak sepak bola. No, it’s not me! ^^v Entah kenapa saya tidak pernah berhasil untuk menonton satu pertandingan penuh sepak bola. Salut deh sama papa, adik kembar, dan teman-teman saya yang begitu sangat menantikan dan menikmati sekali setiap pergerakan benda bundar itu dari kaki bahkan kepala pemain-pemain tim favorit mereka.

Tapiii.. Saya (pernah) berusaha untuk menghadirkan hati bagi olahraga yang begitu digandrungi hampir di seluruh dunia ini. Tsaaahh.. :p

Begini ceritanyaa…

10 tahun yang lalu. Dimana saya masih berseragam putih-biru. Teman-teman dekat sering membahas tentang sepak bola. Karena tidak mau dianggap kuper (kurang pergaulan), saya mulai mencari sebanyak mungkin informasi pada Papa, membaca koran dan majalah olahraga, juga mulai ikut-ikutan “ngintip” pertandingannya di televisi. Kenapa cuma ngintip? Yaa karena pada dasarnya saya memang tidak tertarik. ^^v

Semakin banyak bertanya, membaca, dan ngintip, tidak lantas membuat saya jatuh hati pada sepak bola. Sepak bola tidak mengalihkan duniaku.. *korban iklan* hihi.. Saya tetap lebih menikmati musik dan basket.

Waktu berlalu, putih-biru berganti putih-abu abu. Dunia baru. Namun saya tetap melanjutkan kegiatan yang saya suka, basket.

Namun, begitulah cinta, datang tak diundang, pulang tak diantar, #eh maksudnya datang tanpa kita rencanakan. Saya tidak ingat awal mulanya, yang saya ingat, sejak itu saya memproklamirkan diri sebagai Milanisti. Yeeaaayyy… Saya dukung klub sepak bola asal Italia, AC Milan. Kenapa? Alasannya sangat sederhana, karena di klub tersebut ada Andriy Shevchenko. Pemain dengan nomor punggung 7. It’s my favourite number.. He is handsome, a great player, and his number is seven. A simple reason. Hohoho…

Saya (sempat) mengoleksi berbagai pernak-pernik AC Milan, kliping berita-beritanya, beli (yang dulu cuma pinjem) majalah olahraga, dan nonton (bukan ngintip) pertandingannya. Ya, saya (sempat) memberikan hati dan mencurahkan perhatian pada sepak bola, AC Milan pada khususnya. Dan Andriy Shevchenko, khusus di atas khusus. Hallaah.. :p

Hal itu tidak berlangsung lama. Tahun terakhir saya menjadi siswa, saya buang semua barang-barang itu. Saya pikir, terlalu kekanak-kanakan. Apalagi poster AC Milan dan Sheva yang terpasang di dinding kamar. Duuuuh…

Hidup terus berjalan. Banyak hal yang membuat saya menepikan tentang Milan.

***

Hari ini, kenangan itu seperti dihadirkan kembali di hadapan. *gaya banget dah*

Saya mendengar beritanya dari 1 minggu yang lalu. Charity match. AC Milan Glorie VS Indonesia All Stars. ​*\(ˆ‎​​​​▽ˆ‎​​​​)/*

Daaan, sepanjang sore yang dingin di hari ini, saya habiskan untuk menonton charity match tersebut. Berisik dan heboh sendiri waktu kamera zoom in Sheva. Apalagi di menit ke 40, Sheva mencetak gol kedua bagi tim Milan Glorie. Yattaaaaaa….. *joget-joget India*

Rasanya ingin sekali meluncur ke GBK, melihat langsung kedua tim bertanding. Atau pinjem ‘pintu kemana saja’-nya Doraemon. Hihihi..

Pertandingan dimenangkan oleh AC Milan Glorie dengan skor 4-2. Yes! #eh maap yaaah tim Indonesia.. ^^v

***

Sebenarnya gak sepenuhnya nonton juga siih. Sudah saya bilang dari awal, saya tidak pernah berhasil menonton pertandingan secara penuh. :p

Saya berharap, suami saya kelak adalah bukan seorang yang pecandu nonton pertandingan sepak bola. #eh *melipir*

Alle.. Alle.. Alle Milan.. Alle..
*kibarin bendera Milan*

Sabtu, 09/02/2013
22:27 WIB
*mengenang kenangan*

Pilihan

Saya punya banyaaaak sekali impian, dan keinginan. Menjadi wanita, anak, istri, ibu yang sholihah, manusia yang bermanfaat, dan masuk Surga; jelas berada di urutan pertama.

Pengen banget jadi akuntan, penulis, pengusaha, bahkan fotografer. Pengen pinter masak, punya suara bagus kayak diva, tubuh yang langsing dan ideal. Keliling dunia, punya Mini Cooper (warna kuning yaa..), dan semua-muanyaaa. Banyaaaaaak banget kalo harus disebut satu per satu.

Ada yang salah? Saya rasa tidak. Setiap orang punya hak untuk bermimpi dan mewujudkan impian dan keinginannya.

Tapi, akan ada masanya, dimana kita dihadapkan pada pilihan. Fokus menjadi seorang housewife atau berkarier? Keluarga atau pekerjaan? Lebih menekuni hobi A atau B? Membesarkan bisnis C atau D? Bekerja atau lanjut sekolah atau bekerja sambil sekolah? Dan lain-lain.. Dan lain-lain..

Mungkin juga tidak ada “atau”, karena kita memilih untuk melakukan semuanya. Semuanya. Karena kita SUKA dengan semua pilihan-pilihan itu, kita yakin MAMPU melakukan semua hal itu dengan BAIK, kita yakin akan bisa FOKUS mengatur semuanya dengan sempurna.

Pada akhirnya, mengambil semua pilihan untuk dilakukan pun adalah pilihan. Setiap pilihan, mengandung risiko, juga tanggungjawab.
Kita bebas memilih. Maka, pandai-pandailah menimbang risiko.

Selamat memilih..🙂

Rabu, 06/02/2013
21:58 WIB
Purple Corner, ditemani novel Sherlock Holmes.